Siswa SMA Masa Depan Diterima Di Belasan Kampus Top Dunia

- Jumat, 26 Mei 2023 | 22:29 WIB
Ilustrasi Wisuda Kampus (Ist)
Ilustrasi Wisuda Kampus (Ist)

SiJOGJA.COM: Diterima kuliah di luar negeri adalah impian banyak orang.

Mimpi itu terasa jauh dan impossible bagi banyak remaja, tapi ternyata dengan kerja keras, usaha sistematis pantang menyerah, Alhamdulillah siswa-siswi SMA Masa Depan mampu meraihnya.

 

Kampus-kampus yang menerima mereka adalah kampus-kampus top dunia seperti University of British Columbia-Canada, Monash University-Australia, University of Toronto-Canada, Wageningen University-Belanda, University of Exeter-UK, dan masih banyak lagi. Selain itu, juga ada siswa yang diterima di kampus Jepang dan Taiwan.

 

Menariknya, capaian ini diraih SMA Masa Depan dengan tetap menerapkan Kurikulum Nasional. Meski memiliki orientasi internasional, SMA ini juga tetap memiliki project-project merakyat untuk masyarakat. Harapannya, rasa nasionalisme dan empati terhadap problem masyarakat tumbuh di dada murid-muridnya.

 

Nah apa rahasia SMA Masa Depan untuk mengantarkan siswa-siswinya lolos kampus-kampus top dunia?

 

“Kami percaya, setiap siswa memiliki potensi masing-masing yang luar biasa. Mereka hanya perlu diarahkan, diberi kesempatan, dibina dan didampingi. Maka kami merancang berbagai program terstruktur sejak awal. Kami banyak melakukan outing untuk belajar dari sumbernya, misalnya ke pusat pembangkit listrik, laboratorium kedokteran kampus, museum perjuangan hingga live in (tinggal di desa seperti KKN). Mereka juga kami dorong membuat event-event untuk melatih kemampuan berorganisasi sekaligus melatih kepekaan terhadap kebutuhan masyarakat, seperti event penyampaian aspirasi penyandang disabilitas ke DPRD , tutur Luqman Fikri Amrullah, MSc., kepala sekolah yang menyelesaikan studi S2 nya di Taiwan.

Eny Sulistyaningrum, PhD, pembina SMA Masa Depan yang menamatkan S2 di Amerika dan S3 di UK, secara terpisah menjelaskan: “Kami mengajak mereka meraih prestasi sekaligus peka terhadap kebutuhan masyarakat. Itu sebabnya, kami dorong mereka untuk tak hanya ikut lomba-lomba, tapi juga memiliki project nyata di masyarakat. Setiap akhir pekan, kami membimbing mereka menganalisis masalah masyarakat, mencari solusinya, sekaligus merancang cara membuat programnya. Saya sering terkagum-kagum dengan ide-ide brilian mereka. Ternyata empati terhadap masyarakat itu bisa tumbuh di kalangan remaja, asal dibina dengan telaten dan diberi kesempatan-kesempatan.”

 

Hal ini juga ditegaskan oleh Diana Setiyawati, PhD. Psikolog pembina siswa yang menamatkan S2 di Malaysia dan S3 di Australia ini mengatakan, “Dalam memilih kuliah, sebaiknya alasannya jangan hanya karena kepengen atau suka saja. Namun harus ada empat hal yang melatarbelakangi: apa yang disukai, apa yang paling unggul dari dirinya, apa masalah masyarakat yang ingin ia pecahkan di masa depan, dan profesi apa yang ingin ia tekuni. Oleh karena itu, kami tidak melakukan tes minat bakat di sekolah, karena kami percaya, tes ‘sekali duduk’ saja tidak cukup untuk menuntun anak ke masa depan. Kami justru mendampingi mereka mengenal dirinya, menemukan keunggulan dan passion-nya, lalu mendorong mereka untuk memaksimalkan potensinya. Ada pelajaran Psikologi dan pengembangan diri setiap pekan, juga coaching harian oleh guru. Setiap anak memiliki coach masing-masing selama bersekolah disini.”

Editor: Antonius P.W

Tags

Terkini

4 Dosen UMY Terima SK Guru Besar

Rabu, 7 Juni 2023 | 15:58 WIB

HUT ke-76 Pemkot Yogya Usung Tatag Teteg Tutug

Jumat, 2 Juni 2023 | 23:50 WIB
X