• Jumat, 8 Juli 2022

Tari Sakral Keraton Yogya Sambut Kunjungan Presiden Jerman

- Jumat, 17 Juni 2022 | 21:48 WIB
Presiden Jerman disambut Tari Lawung Ageng yang sakral di Keraton Yogyakarta Jumat (17/6) (Istimewa)
Presiden Jerman disambut Tari Lawung Ageng yang sakral di Keraton Yogyakarta Jumat (17/6) (Istimewa)

SiJOGJA.COM: Sri Sultan Hamengku Buwono X bersama GKR Hemas, menerima kunjungan Presiden Republik Federasi Jerman Frank-Walter Steinmeier beserta rombongan, Jumat (17/06) sore. Dalam rangkaian lawatan perayaan hubungan diplomatik Indonesia-Jerman itu, Presiden Steinmeier mengapresiasi kekayaan budaya Jogja, utamanya yang disaksikannya di Keraton Yogyakarta.

Presiden disambut Sri Sultan di Regol Danapratapa, Kompleks Srimanganti, Keraton Yogyakarta, setelah sebelumnya disambut putra serta menantu Sri Sultan yaitu GKR Mangkubumi, GKR Condrokirono, KPH Purbodiningrat, dan KPH Notonegoro di Regol Kamandungan Lor.

Selama berada di Keraton, Presiden Steinmeier dijamu dengan menyaksikan benda-benda koleksi Keraton di Emper Gedhong Prabayeksa, Beksan Lawung Ageng di Tratag Bangsal Kencana, dan menikmati suguhan kopi, teh, serta makanan ringan khas Keraton di Bangsal Manis.

Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Mangkubumi, putri sulung Sri Sultan mengatakan, Presiden Jerman telah melihat secara dekat beberapa koleksi batik, wayang kulit, barang pecah belah milik Keraton, serta manuskrip.

Lanjutnya, saat menikmati tarian, istri KPH Wironegoro itu menyampaikan bahwa Presiden terpukau, karena tak menyangka Jogja memiliki tarian dengan karakteristik yang semarak atau rancak seperti halnya Bali.

"Beliau apresiasi tentang tariannya, karena lawung itu kan musiknya semarak ada terompet, drum beliau berpikir kalau yang rancak itu hanya di Bali gitu. Termasuk bertanya tentang tarian perang, kemudian tadi sudah dijelaskan bahwa lawung itu untuk wedding," ujarnya.

Beksan Lawung sendiri merupakan tarian pusaka ciptaan Sri Sultan Hamengku Buwono I yang menggambarkan adu ketangkasan prajurit saat berlatih tombak dan berkuda. Oleh karenanya, gerakan-gerakannya mengandung unsur heroik, patriotik, dan berkarakter maskulin. 

Tak hanya itu, Presiden bersama Sri Sultan juga juga membahas soal Keistimewaan Jogja dan masalah lingkungan mengingat di Jerman memiliki teknologi dan riset yang maju terkait pengelolaan lingkungan.

"Intinya tentang keistimewaan Jogja kemudian tentang lingkungan karena di Jerman itu punya teknologi dan riset yang cukup bagus untuk environment. Kami ingin kolaborasi penataan permasalahan lingkungan di Jogja," imbuh Gusti Mangku, sapaannya.

Halaman:

Editor: Antonius P.W

Tags

Terkini

Terpopuler

X